Postingan

“Sebenarnya, gimana sih cara menjalani Islam seperti yang Allah mau?” “Apakah cukup dengan shalat, puasa, zakat… lalu selesai?”

 Jawaban sederhananya: ya dan tidak. Ya, karena ibadah-ibadah itu memang fondasi penting. Tapi tidak, kalau kita menganggap Islam itu cuma soal ritual tanpa hati yang hidup. Jadi, yuk kita telusuri pelan-pelan. 🌱 Islam Itu Bukan Sekadar Taat, Tapi Juga Tunduk Kata “Islam” sendiri artinya “berserah diri.” Bukan hanya taat secara fisik, tapi tunduk secara batin. Artinya, menjalani Islam yang benar bukan cuma soal melaksanakan perintah secara teknis, tapi juga soal memahami untuk siapa kita melakukan itu, dan kenapa. Contohnya: Shalat bukan hanya menggugurkan kewajiban, tapi cara ngobrol sama Allah. Puasa bukan cuma menahan lapar, tapi melatih sabar dan empati. Zakat bukan hanya hitungan 2.5%, tapi cara membersihkan hati dari kikir. Kalau cuma dikerjakan karena takut dosa atau biar masuk surga, boleh. Tapi sayang. Karena Islam itu lebih luas dari sekadar "lulus atau gagal". 🧭 Jadi, Gimana Menjalani Islam Seperti yang Allah Mau? 1. Mulai dari yang palin...

Kok Aku Sering Overthinking, Ya?

 Hai kamu, Pernah nggak sih, malam-malam kamu tiba-tiba mikir terlalu jauh? Tentang hal-hal yang bahkan belum tentu terjadi. Tentang ucapan orang lain yang kamu ulang-ulang terus di kepala. Tentang "gimana kalau gagal?" atau "kenapa tadi dia ngomong gitu ya?" Kalau iya, kamu nggak sendirian. Aku juga. Banyak dari kita—terutama pas remaja—sering banget overthinking. Rasanya kayak kepala rame banget padahal suasana lagi sepi. Lucu, ya? Tapi juga melelahkan. Kenapa sih kita bisa overthinking? Kadang karena kita terlalu peduli. Kita pengin semuanya berjalan baik. Kita takut nyakitin orang, takut salah, takut nggak cukup baik. Dan sayangnya, pikiran kita itu aktif banget. Dia suka muter-muter sendiri, bikin skenario yang belum tentu terjadi. Tapi tahu nggak? Overthinking itu wajar. Itu tanda kamu punya empati. Tanda kamu peka. Tapi juga tanda bahwa kamu mungkin perlu kasih ruang buat diri sendiri bernapas. Coba deh, mulai pelan-pelan: Tulis isi pikiranmu di bu...

Saat Aku Diam-Diam Iri

 Aku pernah merasa iri. Tapi bukan iri yang terang-terangan, lebih seperti rasa sedih yang muncul diam-diam saat melihat orang lain dapat apa yang aku impikan. Kadang aku cuma scroll media sosial, dan tiba-tiba merasa… tertinggal. Seseorang lulus lebih dulu. Yang lain sudah menikah. Temanku punya pencapaian yang aku bahkan belum berani kejar. Lalu muncul pertanyaan-pertanyaan kecil di dalam kepala: “Apa aku lambat?” “Kenapa aku belum sampai juga?” “Kenapa semua orang terlihat lebih baik dariku?” Aku tahu aku tak membenci mereka. Tapi aku juga tahu, aku belum sepenuhnya berdamai dengan diriku. Dan itu membuat iri terasa menyakitkan—karena seolah-olah aku kurang. Selalu kurang. Sampai akhirnya aku sadar, bahwa iri adalah emosi yang wajar. Ia bukan musuh, tapi cermin. Ia datang bukan untuk membuatku membenci orang lain, tapi untuk menunjukkan: ada bagian dalam diriku yang sedang rindu tumbuh. Dan di titik inilah aku mulai belajar satu hal penting. Rasulullah ﷺ b...

Antara Pujian dan Luka yang Tak Terlihat

 Aku pernah merasa luar biasa, hanya karena satu kalimat: “Kamu hebat banget.” Tapi aku juga pernah merasa sangat kecil, hanya karena satu komentar: “Cuma segini doang?” Lucunya, perasaan itu sering datang bukan karena kalimatnya saja, tapi karena aku diam-diam menyandarkan nilai diriku pada orang lain. Saat mereka memuji, aku merasa berharga. Saat mereka merendahkan, aku merasa hancur. Kenapa bisa begitu ya? Mungkin karena sejak kecil, kita terbiasa dinilai dari luar. Ranking, nilai, prestasi, sikap — semua ada standarnya. Tanpa sadar, kita belajar bahwa “nilai diri” itu datang dari validasi. Dan kalau tidak mendapatnya, kita bingung: apakah aku masih layak? Masih cukup? Tapi hidup terlalu panjang untuk terus dikendalikan oleh omongan orang. Aku belajar — dan masih terus belajar — untuk punya pusat nilai yang datang dari dalam. Bukan berarti kita anti kritik atau tutup telinga dari pujian. Tapi kita belajar memilah: mana yang pantas diterima, dan mana yang bisa...

Lelah Tapi Diam-Diam

 Aku sering terlihat baik-baik saja. Tersenyum saat diajak bercanda. Tangguh saat menghadapi masalah. Bisa diandalkan, katanya. Selalu ada, katanya. Tapi diam-diam, aku lelah. Bukan lelah karena terlalu banyak yang harus dilakukan, tapi karena terlalu sering berpura-pura kuat. Aku pernah berpikir kalau jadi kuat itu berarti nggak boleh terlihat rapuh. Nggak boleh menangis. Nggak boleh mengeluh. Aku belajar menahan semuanya sendiri, karena takut merepotkan. Takut dianggap manja. Takut tidak layak dicintai kalau aku sedang tidak 'kuat'. Padahal... manusia nggak diciptakan untuk selalu kuat, kan? Ada hari-hari di mana pundak ini terlalu penuh. Ada malam-malam yang terasa sesak, tapi aku tetap bilang ke dunia: “nggak apa-apa, aku bisa kok.” Dan itu capek. Banget. Aku pelan-pelan belajar, bahwa kekuatan bukan soal menahan semua sendirian. Kekuatan juga berarti tahu kapan harus berhenti. Tahu kapan harus istirahat. Tahu kapan harus bilang, “aku butuh pelukan, ...

Aku yang (Masih) Mencari Aku

Kadang aku merasa seperti orang asing di tubuhku sendiri. Seperti sedang menjalani hidup yang ditentukan oleh suara-suara luar, bukan suara dari dalam. Pernah nggak sih, kamu juga merasa seperti itu? Jadi “anak baik” karena takut mengecewakan. Jadi “teman asik” karena takut ditinggal. Jadi “anak pintar” karena itu satu-satunya cara agar dianggap layak. Padahal dalam hati, ada suara kecil yang bilang, “Ini bukan aku.” Tapi... siapa aku, sebenarnya? Itulah pertanyaan yang sering muncul di masa remaja — dan kadang terbawa sampai dewasa. Kita tumbuh di tengah begitu banyak ekspektasi: dari orang tua, teman, sekolah, bahkan media sosial. Dan tanpa sadar, kita mulai membentuk versi diri yang bisa diterima oleh semua orang — kecuali oleh diri kita sendiri. Aku pernah berpikir identitas itu sesuatu yang harus aku temukan di luar sana. Di pencapaian. Di pujian. Di pertemanan. Di validasi. Tapi makin dicari, makin jauh rasanya. Sampai aku sadar: mungkin jati diri itu bukan sesuatu yang...

Kenapa Kadang Kita Butuh Waktu Sendiri? Ini Jawabannya untuk Kamu, Remaja

 Hai, kamu! Pernah nggak sih, tiba-tiba pengen banget sendiri? Bukan karena lagi bete sama teman atau keluarga, tapi kayak pengen nge-charge ulang diri sendiri? Kalau iya, itu sebenarnya wajar banget. Kadang, hidup yang penuh dengan tugas sekolah, ekspektasi dari orang sekitar, dan sosial media bikin kepala penuh. Jadi, punya waktu sendiri itu bukan berarti kamu anti-sosial atau gak asik, tapi justru cara kamu untuk ngejaga kesehatan hati dan pikiran. Waktu sendiri itu bisa bikin kamu: Lebih paham sama diri sendiri, misalnya apa yang kamu suka, apa yang bikin kamu stress, dan gimana cara kamu bisa lebih happy. Nge-reset pikiran dari hal-hal yang bikin penat, supaya nanti kamu bisa balik lagi dengan semangat baru. Ngejaga mood dan mental supaya nggak gampang capek atau down. Kadang, kita terlalu sibuk jaga perasaan orang lain sampai lupa sama perasaan sendiri. Makanya, jangan takut untuk ambil jeda dan dengerin apa yang kamu butuhin. Ingat, waktu sendiri bukan tanda k...